SEJARAH SEJARAH DESA LENGKONG WETAN KECAMATAN SINDANGWANGI KABUPATEN MAJALENGKA Cerita orang-orang terdahulu lengkong adalah Telapakan “Sangkuriang”. Ciri-ciri tersebut adalah Batu Perahu (Batu yang menyerupai perahu) dan Gunung Putri (Gunung tempat seorang Putri). Merupakan salah satu dari cerita/kisah cinta antara anak yang mencintai ibu kandungnya: Anak tersebut bernama Sangkuriang, Sang Ibu bernam Dayang Sumbi. Dayang Sumbi mengerti bahwa sangkuriang ingin sekali mempersuntingnya. Sang Ibu tidak kurang bijaksana, lalu mengajukan syarat “ Boleh kamu mempersuntingku asal keinginanku dapat kau penuhi, yaitu supaya dibuatkan Situ yang harus selesai dalam satu malam sebelum fajar”. Sewaktu Sangkuriang membuat Situ (bendungan), Dayang Sumbi melakukan rekayasa dengan membuat Fajar sebelum fajar, dan bisa menggagalkan keinginan anaknya. Sangkuriang merasa tidak puas lalu murka. Maka terjadilah kejar-kejaran antara Sangkuriang dengan Dayang Sumbi. Sewaktu akan kena Dayang Sumbi mengucapkan Bit, dalam bahasa sunda Bit artinya “jangan dahulu” . Ketika terucap Bit maka terciptalah nama Gunung Galumpit (salah satu nama gunung). Kejar-kejaran terus belangsung, karena jauhnya yang dikejar, sangkuriang mengucapkan Be. Dalam Bahasa Sunda Be artinya “tidak kena”. Ketika terucap Be maka terciptalah nama Gunung Cabe. Oleh karena sangkuriang terus mengejar, maka Dayang Sumbi masuk ke lubang (gua) untuk bersembunyi. Ketika Sangkuriang memeriksa lubang tersebut, ternyata yang terlihat adalah bangkong (katak). Kemudian Sangkuriang mengatakan “Asup ka liang aya bangkong”, maka terciptalah nama Lengkong. Lengkong merupakan dusun yang berlokasi Di Kecamatan Sindangwangi Kabupaten Majalengka. Pada saat pasukan Ki Gede Matangaji menyerang Ki gede Wanakerta/Pangeran Walangsungsang di Daerah Sumber/Tuk Mudal Cirebon, Pasukan Ki Gede Matangaji lari tunggang langgang ke daerah Semarang tinggal tersisa lah Tumenggung Bule, Tumenggung Bule mengumpulkan sisa-sisa pusaka yang ada, lalu dimasukan kesebuah peti kandaga yang terbuat dari kayu jati tua. Peti tersebut lalu dibawa kedaerah utara Wanakerta untuk dikuburkan. Setelah selesai penguburan pusaka, Tumenggung Bule menuju Telar asem untuk membuat gubug tempat tinggal Di sinilah cikal bakal Masyarakat Dusun Lengkong berasal sehingga di lanjutkan penerus Dusun Lengkong dikelola oleh Buyut Samat, keturunan dari anak Tumenggung Bule dari Sumber, Cirebon. Buyut Samat mempunyai anak bernama Buyut Lana yang mempunyai titel Demang. Buyut Lana mempunyai anak bernama Buyut Senjaya, yang mulai memerintah pada waktu itu karena sudah ada pemerintahan desa. Adapun Silsilah Kuwu Desa Lengkong adalah sebagai berikut : Buyut Samat – Lengkong – 1775 – 1810 Buyut Demang – Lengkong – 1810 – 1825 Buyut Sanjaya – Lengkong – 1825 – 1845 Bapak Kedung – Lengkong – 1845 – 1870 Buyut Arsa Wijaya – Lengkong – 1870 – 1880 Buyut Ranggadinata – Lengkong – 1880 – 1895 Buyut Wangsa – Lengkong – 1895 – 1925 Buyut Suta – Lengkong – 1925 – 1933 Buyut Wiramiharja – Lengkong – 1933 – 1952 Bapak Margono – Lengkong – 1952 – 1961 Bapak Karja – Lengkong – 1961 – 1965 Bapak Abun Sopandi – Lengkong – 1965 – 1980 Bapak Wardi – Lengkong – 1980 – 1996 Pada tahun 1982 Desa Lengkong Kecamatan Sindangwangi di mekarkan menjadi dua yaitu Desa Lengkongkulon dan Desa Lengkong Wetan. Adapun Silsilah Kuwu Desa Lengkong Wetan adalah Sebagai berikut : Bapak Husen Iyon – Lengkong Wetan 1982 – 2000 Bapak Rusita Samud – Lengkong Wetan 2000 – 2011 Bapak Iding Duladi – Lengkong Wetan 2011 – 2017 Bapak Kusmayadi – Lengkong Wetan 2017 – 2023 Bapak Enda Sukandi − Lengkong Wetan 2023 – 2031