SEJARAH
179
0
SEJARAH DESA LENGKONG WETAN
Kecamatan Sindangwangi – Kabupaten Majalengka

Jejak Legenda di Tanah Lengkong
Sejarah Desa Lengkong Wetan tidak hanya lahir dari catatan pemerintahan, tetapi juga hidup dalam tuturan para leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Masyarakat dahulu meyakini bahwa kawasan Lengkong memiliki keterkaitan dengan kisah legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi.
Di wilayah ini terdapat beberapa tempat yang dipercaya menjadi penanda legenda tersebut, seperti Batu Perahu, yaitu batu yang bentuknya menyerupai perahu, serta Gunung Putri, yang diyakini sebagai tempat bersemayam seorang putri dalam cerita rakyat Sunda.
Konon, ketika Sangkuriang berniat mempersunting Dayang Sumbi yang sebenarnya adalah ibu kandungnya sendiri, Dayang Sumbi mengajukan syarat yang sangat berat: membuat sebuah situ atau bendungan yang harus selesai dalam satu malam sebelum fajar menyingsing.
Dengan kesaktiannya, Sangkuriang hampir berhasil menyelesaikan pekerjaan tersebut. Namun Dayang Sumbi melakukan siasat dengan menciptakan suasana seolah-olah fajar telah tiba. Mengetahui dirinya gagal, Sangkuriang murka dan mengejar Dayang Sumbi.
Dalam pengejaran itu, Dayang Sumbi berulang kali mengucapkan kata-kata yang kemudian dipercaya menjadi asal nama beberapa gunung di sekitar wilayah tersebut:
- “Bit” yang berarti jangan dahulu, dipercaya melahirkan nama Gunung Galumpit.
- “Be” yang berarti tidak kena, dipercaya menjadi asal nama Gunung Cabe.
Pengejaran terus berlanjut hingga Dayang Sumbi bersembunyi ke dalam sebuah lubang atau gua. Ketika Sangkuriang memeriksanya, yang terlihat justru seekor bangkong (katak). Sangkuriang pun berkata:
“Asup ka liang aya bangkong.”
Dari ungkapan itulah masyarakat meyakini lahirnya nama Lengkong.
Awal Mula Permukiman Lengkong
Selain legenda, terdapat pula kisah sejarah yang berkaitan dengan perjalanan Tumenggung Bule, seorang tokoh yang masih berhubungan dengan pasukan Ki Gede Matangaji.
Dikisahkan bahwa ketika terjadi penyerangan terhadap Ki Gede Wanakerta / Pangeran Walangsungsang di daerah Sumber (Tuk Mudal), Cirebon, pasukan Ki Gede Matangaji tercerai-berai. Dari peristiwa tersebut hanya tersisa Tumenggung Bule.
Ia kemudian mengumpulkan sisa-sisa pusaka dan menyimpannya ke dalam peti kandaga dari kayu jati tua. Peti itu dibawa ke wilayah utara Wanakerta untuk dikuburkan demi menjaga keselamatan pusaka tersebut.
Setelah selesai menguburkan pusaka, Tumenggung Bule menuju daerah Telar Asem dan mendirikan sebuah gubug sederhana sebagai tempat tinggal. Dari tempat inilah dipercaya muncul cikal bakal masyarakat Dusun Lengkong.
Keturunan Leluhur Lengkong
Kepemimpinan Dusun Lengkong kemudian diteruskan oleh keturunan Tumenggung Bule, yaitu Buyut Samat yang berasal dari Sumber, Cirebon.
Silsilah penerusnya adalah:
Tumenggung Bule → Buyut Samat → Buyut Lana (Demang) → Buyut Senjaya
Pada masa Buyut Senjaya, pemerintahan desa mulai terbentuk secara lebih teratur sehingga wilayah Lengkong mulai dikenal sebagai sebuah desa dengan sistem pemerintahan yang jelas.
Silsilah Kuwu Desa Lengkong (1775–1982)
|
Nama Kuwu
|
Masa Jabatan
|
|
Buyut Samat
|
1775–1810
|
|
Buyut Demang
|
1810–1825
|
|
Buyut Sanjaya
|
1825–1845
|
|
Bapak Kedung
|
1845–1870
|
|
Buyut Arsa Wijaya
|
1870–1880
|
|
Buyut Ranggadinata
|
1880–1895
|
|
Buyut Wangsa
|
1895–1925
|
|
Buyut Suta
|
1925–1933
|
|
Buyut Wiramiharja
|
1933–1952
|
|
Bapak Margono
|
1952–1961
|
|
Bapak Karja
|
1961–1965
|
|
Bapak Abun Sopandi
|
1965–1980
|
|
Bapak Wardi
|
1980–1996
|
Pemekaran Desa Lengkong
Pada tahun 1982, Desa Lengkong Kecamatan Sindangwangi mengalami pemekaran menjadi dua desa, yaitu:
Desa Lengkong Kulon
Wilayah hasil pemekaran bagian barat dari Desa Lengkong.
Desa Lengkong Wetan
Wilayah hasil pemekaran bagian timur yang kemudian berkembang menjadi desa definitif hingga sekarang.
Pemekaran ini dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pemerintahan, pelayanan kepada masyarakat, serta mempercepat pembangunan wilayah.
Silsilah Kuwu Desa Lengkong Wetan
|
Nama Kuwu
|
Masa Jabatan
|
|
Bapak Husen Iyon
|
1982–2000
|
|
Bapak Rusita Samud
|
2000–2011
|
|
Bapak Iding Duladi
|
2011–2017
|
|
Bapak Kusmayadi
|
2017–2023
|
|
Bapak Enda Sukandi
|
2023–2031
|
Lengkong Wetan Masa Kini
Desa Lengkong Wetan merupakan desa yang tumbuh dari perpaduan legenda, perjuangan leluhur, dan semangat gotong royong masyarakatnya. Wilayahnya yang berada di lembah dan dikelilingi perbukitan menjadikan desa ini memiliki keindahan alam sekaligus sumber daya yang melimpah.
Dari sebuah gubug sederhana yang didirikan Tumenggung Bule, kini Lengkong Wetan berkembang menjadi desa yang terus membangun diri dalam bidang:
- pemerintahan,
- pertanian,
- pendidikan,
- sosial kemasyarakatan,
- serta pembangunan infrastruktur desa.
Semangat para leluhur tetap menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk menjaga persatuan, budaya Sunda, dan nilai-nilai gotong royong demi mewujudkan:
“Lengkong Wetan yang maju, harmonis, dan sejahtera, tanpa melupakan akar sejarah dan kearifan lokalnya.”